Bangga Menjadi Ibu


IMG_8089web

Selamat Hari Ibu!

Tahun ini adalah Hari Ibu ketigaku. Banyak hal yang sudah dilewati selama menjadi ibu, susah senang, sedih bahagia, tangis tawa, bahkan sering marah-marah juga… tapi aku sangat menikmati seluruh proses yang kata orang merupakan proses pembelajaran seumur hidup ini.

Memperingati Hari Ibu tahun ini, aku ingin mengajak semua teman-teman sesama ibu muda untuk mengapresiasi diri sendiri. Selama ini mungkin kita terlalu asyik mengawasi pertumbuhan anak, sangat bangga melihat perkembangan anak yang luar biasa sampai lupa bahwa kita juga harus bangga terhadap diri sendiri. Kita semua memang masih belajar, belum sempurna dan sepenuhnya baik, tetapi proses ‘menjadi ibu’ itu sama sekali bukan perkara mudah. Itu sebabnya kita harus selalu menghargai jerih payah dan usaha diri sendiri, bukan untuk pamer dan membandingkan siapa yang paling hebat, tapi agar terus punya kekuatan dan semangat untuk belajar menjadi ibu yang semakin baik lagi. Ini dia beberapa hal yang paling membanggakan buatku sebagai seorang ibu:


Berhenti bekerja (kantoran) dan menjadi ibu rumah tangga
Aku memutuskan untuk berhenti kerja kantoran sejak sebelum menikah, karena tau bakal terus mengikuti suami berpindah-pindah kota. Tapi sebelumnya aku sama sekali nggak membayangkan akan sepenuhnya jadi ibu rumah tangga karena 2 alasan: aku nggak mau cuma duduk nadah uang dari suami, dan halooo aku masak dan bebersih aja kagok gimana mau jadi ibu rumah tangga yang kerjanya ngurusin rumah? Hehe… Tapi karena setelah nikah langsung hamil Amanda (dengan segala kondisinya), maka ‘terpaksa’lah aku benar-benar jadi stay-home wife waktu itu. Meskipun profesi ibu rumah tangga masih banyak diremehkan dan dipandang sebelah mata, tapi ternyata menjalaninya sama sekali nggak mudah. Apalagi setelah ada anak, pekerjaan ibu rumah tangga tuh nggaaak pernah habis. Nggak ada jam kerjanya, nggak ada jam istirahat pastinya seperti di kantor, mesti stand by 24 jam dan harus siap kapanpun dibutuhkan suami dan anak. Pekerjaannya pun banyak banget, mulai dari urusan rumah, memasak, mengatur keuangan rumah tangga, sampai merencanakan (and constantly worrying about) masa depan. Belum lagi harus bisa membagi waktu untuk kepentingan pribadi (merawat tubuh, kepoin Instagram, fangirling, dll), dan dalam kasusku, mesti curi-curi waktu lagi untuk menulis. Pokoknya luar biasa deh.

Menjalani kehamilan yang ‘nggak biasa’
Cerita tentang kehamilanku sudah banyak aku tulis di blog ini (baca Pregnancy Post), mulai dari flek dan harus istirahat selama trimester pertama dengan ancaman bakal keguguran kalau nggak nurut, mual-mual parah sampai usia kandungan 4 bulan, flek dan ketauan plasenta previa di usia 5 bulan, pendarahan (dalam kondisi sendirian di rumah Jogja, ortu lagi kerja, dan suami beda kota, akhirnya pergi ke UGD sendirian naik taksi) di usia kandungan 7, lalu harus bedrest sampai melahirkan. Belum lagi aku menjalani kehamilan di luar kota, cuma berdua suami dan jauh dari orang tua, itu pertama kali aku keluar dari Jogja dan tinggal nggak sama orang tua pula. Komplet deh rasanya hihihi… Tapi alhamdulillah semua perjuangan terlewati dengan baik, jadi pengalaman berharga dan sebagai bukti bahwa wanita itu makhluk yang sangat kuat, patut diapresiasi, dan harus berbangga pada diri sendiri.

Menyusui hingga 2 tahun
Perjalananku mengASIhi Amanda juga pernah ditulis di blog ini (baca Baby Post). Orang mungkin berpikir, “Apanya yang membanggakan dari menyusui? Semua ibu kan juga menyusui!” Tapi bagiku menyusui merupakan perjuangan yang nggak mudah dan sangat membanggakan. Mulai dari harunya proses IMD (Insiasi Menyusui Dini) setelah kelahiran, betapa susah dan stressful saat kami masih sama-sama belajar menyusui dan disusui di awal-awal dulu, puting lecet lah, payudara sakit sampai demam lah, ASI seret lah, segala keribetan karena harus siap menyusui kapanpun dan dimanapun, sampai hebohnya proses menyapih. Alhamdulillah Amanda lulus ASI hingga usia 2 tahun, eksklusif dan sama sekali nggak dicampur sufor (UHT baru aku perkenalkan sekitar 1 bulan menjelang sapih). Yang lebih membanggakan lagi buatku, Amanda sejak lahir selalu menyusu langsung alias direct-breastfeeding, sehingga nggak kenal botol dot dan empeng. Sampai sekarang pun dia nggak pernah pakai dot, minum susu langsung dari gelas atau pakai sedotan.

Mengurus anak tanpa helper
Sejak masih hamil, aku memang sudah bertekad ingin mengurus Amanda tanpa baby sitter atau PRT. Meskipun banyak sumbangan suara yang menyarankan aku cari helper (dari mulai kasian karena alasan habis caesar, sampai pandangan merendahkan, “Emang yakin bisa ngurus anak sendiri?”) tapi aku tetep kekeuh mengurus Amanda sendiri. Rasanya? Sama sekali nggak mudah dan melelahkan, tapi senang! Puas dan bangga banget bisa benar-benar merawat anak dengan tangan sendiri, memenuhi semua kebutuhannya, dan menyaksikan dia bertumbuh dari hari ke hari. Alhamdulillah…

Memasak sendiri
Ini lagi-lagi pasti banyak bikin orang angkat alis. Yakin, memasak doang bikin bangga? Iya! Karena aku tadinya ngupas bawang aja nggak bisa lho, buibu. Pegang pisau kagok banget apalagi ngulek, masak nasi pakai rice cooker aja bingung takaran airnya, apalagi mengoperasikan blender bumbu segala. Waktu masih single, aku sebenarnya sering masak semacam spaghetti dan teriyaki, tapi semua persiapannya selalu dibantu si mbak. Tinggal osreng, kasih bumbu, beres. Tapi sejak menikah, hidup merantau, dan punya anak, nggak ada lagi tuh yang bisa dimintain tolong nyiapin bahan. Mulai dari ngupas bawang sampai nyuci peralatan masak harus dilakukan sendiri. Awalnya bingung banget, dikit-dikit Googling cari resep. Bahkan tips mengupas kentang aja mesti Googling dulu haha… Tapi lama-kelamaan belajar dari pengalaman, setelah beberapa kali suami jadi korban trial and error menu, akhirnya sekarang sudah lumayan luwes di dapur.

Setiap hari aku selalu masak sendiri termasuk untuk Amanda, bahkan sejak dia masih makan baby food. Bukannya melaknat bubur instan dan frozen food ya, semua pilihan masing-masing ibu. Cuma aku pribadi rasanya nggak sampai hati aja kalau anak harus makan makanan instan atau yang nget-ngetan alias udah dipanasin bolak-balik. Makanya aku selalu berusaha memasak sendiri, dan aku bangga sama diriku yang sudah jauh berkembang dari nggak bisa ngupas bawang sampai sekarang bisa menghasilkan masakan yang pantas untuk seluruh keluarga.

Berhasil membangun komunikasi & hubungan harmonis dengan anak
Sejak hamil, salah satu yang jadi kekhawatiranku adalah bagaimana caranya punya hubungan harmonis sama anak, selalu mesra dan rukun sampai si anak besar nanti. Karena berdasarkan pengalaman sekitar, hubungan ibu dan anak perempuan itu sangat rentan pertengkaran dan ketidakcocokan. Entah karena sama-sama wanita jadi secara natural muncul sifat kompetitif, atau karena wanita memang cenderung lebih sensitif dan emosional jadi bawaannya gampang sakit hati dan sering baper. Makanya aku bercita-cita, masih dan insya Allah akan terus berusaha keras membangun hubungan yang harmonis dengan Amanda. Sejauh ini aku memang suka marah kalau Amanda ngeyel, tapi di luar itu alhamdulillah kami sangat mesra dan kompak, sering peluk dan cium, komunikasi juga lancar. Kami selalu melakukan apapun bareng-bareng. Kami juga punya banyak baju dan aksesoris kembaran, harapanku supaya Amanda selalu ingat kalau mamanya ini nggak sekadar orang tua, tapi juga sahabatnya yang bisa diajak kompakan dalam hal apapun. Bismillah, mudah-mudahan kami mesraaaa terus sampai maut memisahkan di hari tua nanti. Aamiin.

Sekian ceritaku, ditunggu cerita ibu-ibu lainnya yang pasti nggak kalah seru. Sekali lagi, Selamat Hari Ibu ya, buibu sekalian! Terima kasih atas perjuangan dan ketulusannya merawat keluarga sepanjang hayat. Semoga semua ibu di seluruh penjuru Indonesia ini selalu sehat dan bahagia lahir batin, sehingga bisa melahirkan dan membesarkan generasi penerus bangsa yang bahagia dan cerdas, nggak hanya secara inteletual tapi juga emosional.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s