Resolusi Tahun Baru


IMG_8442web

Sudah lama sekali rasanya aku nggak bikin resolusi tahun baru. Padahal dulu waktu masih remaja paling rajin tuh, sampai ditulis di diary segala. Bukan cuma satu resolusi, tapi banyak! Walaupun yang bener-bener dilakukan ya paling cuma dua sih hehe…

Menyambut tahun 2018 ini, aku cuma punya satu resolusi. Sederhana, tapi sulit untuk dilakukan, yaitu: mengajarkan Amanda (dan diriku sendiri, bahkan suami juga kalau bisa) supaya nggak jadi orang berpikiran sempit yang mengotak-kotakkan sesama manusia berdasarkan Suku, Agama, dan Ras.

Secara pribadi, aku merasa resolusi ini sangat penting, bukan cuma buat anak dan keluargaku tapi juga untuk masyarakat luas. Di Indonesia isu SARA masih sangat kencang, belakangan ini makin dahsyat karena difasilitasi kebebasan berpendapat (dan kemudahan membully) via media sosial. Katanya negara ini Bhinneka Tunggal Ika, tapi kenyataannya perbedaan sangat sulit dihargai. Dosa yang dilakukan satu orang dari suku, agama, dan ras tertentu sering kali digeneralisir menjadi keburukan seluruhnya. Akhirnya orang jadi dengan mudah menghakimi orang lain berbasis SARA, dan lebih parahnya lagi, menurunkan judgement tersebut kepada keturunannya.

Nggak perlu bicara jauh-jauh di lingkup nasional, di lingkungan kita masing-masing aja pasti masih banyak tuh yang sering dengar (atau bahkan mungkin mengucapkannya sendiri, hayo ngaku) kata-kata berbasis SARA yang sederhana semacam, “Ah, dasar Cina! Pasti pelit deh!” atau “Eh, jangan pacaran sama cewek Sunda lho, matre!” :( Aku sendiri sering sekali dikatain orang “Dasar Jawa, klemar-klemer dan suka basa-basi!” hanya karena aku berusaha sopan dan bertutur kata lembut, sama sekali bukan basa-basi. Amanda yang masih batita pun pernah juga kena damprat, “Anaknya orang Jogja banget ya, pemalu dan nangisan gitu!” cuma gara-gara dia nangis habis diciumin dan diserbu gemes sama orang-orang yang baru dikenal. Kita yang orang dewasa aja sering ogah kalau ada orang sok kenal sok deket, masa anak kecil nggak boleh merasa nggak suka? Karena bisanya cuma nangis, ya wajar aja dong dia nangis.

Aku juga pernah terlibat percakapan dengan salah satu teman yang cukup bikin shock, karena kupikir orang tersebut berhati baik dan lembut, ternyata…

A: “Itu temen baru aslinya dari mana?”

B: “Dari kota X. Tapi kafir.”

A: “Hah?”

B: “Iya, kafir. Agamanya Kristen.”

A: “…….” (kaget, cuma nanya asalnya eh dikasih tau agamanya segala, pake ngatain pula)

Mohon maaf lahir batin percakapan di atas nggak bermaksud menyinggung teman-teman umat Kristiani, tapi kenyataannya masih banyak banget orang yang mulutnya pedas begitu. Nggak cuma Muslim terhadap agama lain, barangkali yang lain juga ada yang melabeli Muslim sebagai “pasukan celana cingkrang” atau bahkan “teroris”. Sedih banget…

Itulah sebabnya kita harus berubah. Dan perubahan hanya bisa dilakukan jika kita MAU untuk memulai dari diri kita sendiri, lalu menularkan kepada keluarga terdekat. Kita sebagai generasi penerus yang juga melahirkan dan mendidik generasi-generasi pemimpin masa depan sudah semestinya berpikiran semakin terbuka terhadap perbedaan. Agamaku tetap agamaku, agamamu tetap agamamu. Tapi nggak ada salahnya kita berhenti melabeli orang lain berdasarkan kepercayaan yang dianut, karena kafir atau tidak, calon penghuni surga atau neraka, dosa atau tidak, itu bukan haknya manusia yang menentukan. Aku tetap orang Jawa yang menganut budaya Jawa, dan kamu tetap orang Sunda dengan budaya Sunda, tapi selagi kita sama-sama saling menghargai dan bersikap baik satu sama lain, nggak ada lagi alasan untuk saling membenci dan menghakimi yang belum tentu benar hanya karena “Kata orang tua, orang Jawa tuh…”

Sekarang, yang jadi pertanyaan utama, gimana caranya supaya nggak jadi orang yang rasis?

Bertahan di tengah terpaan badai rasisme yang sudah mengakar di Indonesia ini memang bukan perkara gampang. Trik yang selalu aku lakukan untuk diri sendiri adalah dengan berusaha memandang dan mengingat sisi baik teman-teman dari setiap suku, agama, dan ras. Misalnya ada stereotipe tertentu tentang Cina, maka aku selalu mengingat kebaikan teman-temanku yang keturunan Tionghoa. Kami sangat akur dan bisa saling menghargai perbedaan. Ketika ada yang menjelek-jelekkan umat Kristiani, aku mengingat salah satu sahabatku yang beragama Kristen. Kami berteman sudah 10 tahun, dia sangat baik dan kami seperti saudara, nyatanya bisa hidup berdampingan dalam damai. Saat ada yang menyebut bahwa suku A, B, C itu tidak baik, maka aku akan mengingat pakde (kakak ipar ibuku) yang asal Padang, yang sungguh baik hati, penyayang, dan nggak pelit, juga salah satu kakak sepupu ipar asal Sunda yang ternyata sama sekali jauh dari kata matre, mbak ART di Bali yang nyatanya sangat bertanggung jawab sama kerjaannya meski harus menyeimbangkan upacara agama dan pekerjaan, serta masih banyak lagi contoh lainnya. Intinya adalah berpikiran terbuka, selalu positif, dan jauhi prasangka.

Nah, lalu gimana caranya mendidik anak sejak usia dini supaya nggak tumbuh menjadi orang yang rasis? Nggak mudah pastinya, aku juga masih harus banyak belajar. Beberapa artikel bagus seperti di Keluarga.com dan Detik.com ini layak dijadikan referensi.

Dari situ kita bisa menariknya ke satu prinsip, bahwa manusia tidak layak dihukum karena warna kulitnya, karena kebangsaannya, karena etnisnya, atau karena latar budayanya. Manusia diberi apresiasi dan sanksi semata berdasar perbuatan-perbuatan yang dilakukannya. (Dalam hal ini kita sering lupa, bahwa labeling dan prasangka pun sudah merupakan hukuman itu sendiri.)

Kalau bosan dengan hal-hal yang normatif, kita pun bisa mengajarkan kepada anak-anak bahwa sikap-sikap yang cenderung rasis bukan cuma melawan kebenaran moral, melainkan juga bertentangan dengan kebenaran sains. Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa semua manusia setara dalam segenap potensi dalam dirinya. Kecuali kita mau melompat balik ke masa ratusan tahun silam, sangat tidak masuk akal bila kita merendahkan dan membangun prasangka berdasarkan ciri-ciri fisik semata.

Iqbal Aji Daryono (Sumber: Detik.com)

IMG_8447web

Amanda anak yang sangat beruntung karena dilahirkan dalam keluarga yang berasal dari berbagai suku. Eyang-eyangnya ada yang campuran Jawa-Bali, Jawa-Madura, asli Palembang, asli Jawa tapi besar di Sulawesi, papanya besar di Bogor dengan gaya hidup dan logat kebarat-baratan (Jawa Barat, maksudnya hihi), sedangkan mamanya lahir dan besar di Jogja dengan segala unggah-ungguh dan lidah yang medok. Keluarga besar kami juga menyebar dari Aceh sampai ke Sulawesi, jadi harapannya sejak kecil Amanda sudah terbiasa melihat perbedaan suku—termasuk juga perbedaan budaya, tata krama, bahkan gaya bersikap dan berbicaranya.

Musik dan video juga menjadi media efektif yang aku gunakan untuk memperkenalkan Amanda pada keberagaman warna kulit, ras, serta bahasa. Selain tentunya mengenalkan musik dan video dalam bahasa Indonesia, aku juga nggak segan-segan setelin lagu dan video musik penyanyi Barat, K-Pop, lagu anak dari Jawa dan Bali, serta video-video anak-anak berbahasa Inggris. Supaya sejak dini dia sudah tau bahwa di dunia ini ada bermacam manusia dengan warna kulit dan rambut yang berbeda, juga beragam bahasa, budaya, dan selera. Dengan begitu, aku berharap Amanda akan tumbuh besar menjadi anak yang berpikiran terbuka terhadap dan tidak mendiskriminasi orang lain berdasarkan suku, ras, bahkan selera musiknya.

Jadi, beginilah resolusi tahun baruku. Panjang ya, tapi intinya cuma satu: ingin selalu berpikiran terbuka dalam menyikapi perbedaan yang berkaitan dengan SARA, supaya dunia bisa jadi tempat yang damai dan nyaman dihuni generasi penerus kita kelak. Selamat Tahun Baru 2018!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s