[BABY] Toilet Training Part 1


IMG_3915-edt

Dalam perjalanan pulang dari Kuta beberapa hari lalu, aku sempat ngobrol sama suami tentang Amanda yang mendadak sudah mau ulang tahun ke-3 bulan depan. Lalu kami berdua mengingat-ingat, kira-kira hari ini tahun lalu kami sedang sibuk ‘mencuci otak’ Amanda dalam rangka menyapih. “Sebentar lagi Manda ulang tahun ke-2 lho! Kalau sudah 2 tahun itu nggak mimik susu mama lagi, minumnya susu moo (sapi).” dan sebagainya sampai akhirnya sukses disapih tepat di hari ulang tahunnya!

Tiba-tiba aja satu tahun berlalu dan sekarang kami sudah masuk babak cuci otak terbaru dalam rangka toilet training. Hihi! Memang yang namanya punya anak itu tantangan nggak akan ada habisnya ya. Pembelajaran buat kita orang tua juga akan berjalan terus seumur hidup.

Bicara soal toilet training, mungkin banyak ibu-ibu yang sudah mulai lebih awal dan lebih canggih metodenya. Tapi lewat post ini aku pengen berbagi pengalaman tentang persiapan, pelajaran, dan suka duka selama proses toilet training Amanda. Senang kalau bisa membantu ibu-ibu yang juga sedang bersiap dan cari referensi tentang toilet training, sekaligus buat kenang-kenangan yang bisa dibaca lagi nanti kalau Amanda sudah besar.

Sampai hari ini, aku masih menyebut usaha kami sebagai toilet training part 1. Karena, walaupun sudah dimulai sebulan lalu, tapi sampai hari ini Amanda masih belum seratus persen bebas diapers. Aku masih pakaikan diapers saat tidur malam dan pergi. Selama 30 hari, Amanda cuma ngompol 4 malam di diapers dan sisanya sukses bangun pagi dengan diapers kering! Agak lebih susah saat bepergian, karena rumah kami jauh dari peradaban (bisa makan waktu 1,5-2 jam untuk sampai tujuan) dan repot banget kalau harus berhenti cari toilet di SPBU atau minimart gitu. Repot dan agak jijik, sejujurnya. Mohon maaf bukan bermaksud menyinggung pihak mana pun ya. Ini memang PR besar buat aku yang orangnya gampang jijik dari sononya :(  Tapi sejauh ini Amanda sudah berhasil beberapa kali pipis di toilet mall, rumah sakit, dan restoran yang toiletnya bersih.

Nah, berikut catatan aku yang penting diperhatikan dan diingat saat persiapan dan proses toilet training Amanda:

SIAP

Aku sejak awal sudah sepakat dengan diri sendiri dan suami bahwa toilet training Amanda akan dimulai SAAT SEMUA SUDAH SIAP. Ya anaknya, ya mamanya, ya papanya yang kadang ikut bantu kalau lagi di rumah. Siap lahir batin, fisik dan mental. Nggak masalah orang mau bilang terlambat. Yang penting begitu kami mulai, nggak ada drama anak nangis kejer karena nggak mau duduk di toilet, drama mama marah-marah karena tiap jam harus bersihin ompol, dan sebagainya.

Sejak beberapa minggu sebelum mulai toilet training, aku dan suami sudah kasih pengertian ke Amanda bahwa sebentar lagi umurnya 3 tahun, sudah besar dan nggak boleh pakai diapers lagi, yang pakai diapers itu baby, kalau anak besar pipis di toilet kaya mama papa, dst. Sampai hari H tiba, dia sukses pipis di toilet untuk pertama kalinya, hanya dengan modal nunjukkin GIF Elmo yang lagi duduk di toilet (“Tuh, Elmo aja pipis di toilet, Manda juga ya sekarang!). Dia juga nggak protes ketika dipakein celana dalam, bukannya diapers. Tetap ngompol, tentunya. Dari 10 kali pipis, separuhnya ngompol di mana-mana seperti anak lainnya. Tapi alhamdulillah drama ngompol cuma berlangsung 2 hari! Di hari ke-3 Amanda sudah bisa bangun jam dua pagi untuk minta pipis di toilet. Setelah itu lancar sampai hari ini, bener-bener cuma ngompol di jalan, di toko atau resto yang toiletnya kurang oke, dan tiga kali di diapers atau celana pas udah nggak ketahan banget. Hehe…

Aku percaya kesiapan anak dan orang tua punya peranan penting dalam kesuksesan toilet training part 1 ini. Amanda yang sudah besar dan bisa ngerti saat dikasih tau, juga tekad dan kemauannya yang kuat tentu memudahkan seluruh prosesnya. I’m a super proud mama. Tapi mama dan papa yang siap juga jadi lebih tenang menghadapi drama ngompol sehingga anaknya nggak stres dan menganggap toilet training sebagai proses yang menyenangkan.

REWARD AND NO REWARD

Ketika kami konsultasi ke dokter anak langganan tentang toilet training ini, beliau sempat mengingatkan agar kami nggak memarahi atau menghukum Amanda saat dia ngompol. Kalau memang orang tua mau memberi hadiah saat anak berhasil pipis di toilet, metode yang seharusnya diterapkan adalah reward and no reward, bukannya reward and punishment. Karena hukuman atau omelan ini bisa bikin anak jadi stres dan malah semakiiiiin ngompol di mana-mana.

Dari awal aku memang sudah berniat kasih reward untuk Amanda dalam proses toilet training ini. Tapi nggak mungkin kan kalau tiap pipis dikasih hadiah, mama bisa bangkrut hihi… Jadi akhirnya aku print Potty Training Chart dan ditempel di pintu kamar mandi. Setiap kali habis pipis Amanda akan dapat 1 bintang (sekarang sudah berubah jadi hati karena dia minta gambar ‘love’ aja), dan kalau lembar itu sudah penuh baru deh dapat hadiah. Dapat love setiap habis pipis aja udah bikin Amanda senang banget, apalagi waktu dapat hadiah. Hadiahnya nggak perlu mahal, tapi sesuai request dia. Misal celana dalam gambar Frozen atau puzzle Moana yang harganya cuma 35ribu di Gramedia.

TRAINING PANTS

Sebelum mulai toilet training, aku sudah beli 4 pcs training pants untuk Amanda. Cuma sedikit banget dan kupikir bakal kurang, tapi ternyata di hari ke-2 Amanda sudah bisa pakai celana dalam biasa. Jadi akhirnya training pants itu cuma dipakai saat tidur siang. Punya Amanda aku beli di Mothercare. Harganya agak bikin sakit kepala, tapi kualitasnya oke banget, bahannya lembut dan pas untuk menampung satu kali pipis.

Menurut aku training pants ini perlu banget, karena anak tetap tau kalau dia sedang pakai celana dalam bukannya diaper, tetap jijik dan ngerasa basah kalau ngompol, tapi kebocorannya sangat minimal dan nggak bikin heboh. Tapi tetap usahakan pasang perlak dulu ya sebelum anaknya bobo. Daripada repot ganti seprai dan jemur kasur segala kan, buibu. Hihi…

POTTY SEAT

Aku nggak yakin benda yang kumaksud ini namanya beneran potty seat, tapi tau kan sejenis tempat duduk tambahan (biasanya empuk dan bergambar lucu) yang bisa ditaruh di toilet orang dewasa. Ada satu selebgram yang sharing tentang toilet training anaknya dan merekomendasikan untuk pakai toilet kecil yang khusus buat anak, ada bunyi flushnya dan tempat taruh tisu segala. Tapi buatku potty seat ini udah paling praktis. Harganya nggak mahal, pilihan gambarnya banyak, dan bisa dibawa traveling juga. Amanda sendiri sudah familiar banget karena sudah duduk di potty seat untuk ‘bersih-bersih’ sejak usianya belum 1 tahun.

Yang jadi masalah adalah ketika harus pipis di toilet mall. Ukuran dudukan toilet orang dewasa masih kebesaran banget untuk Amanda, aku takut dia kecemplung kalau didudukin gitu aja. Tapi kami jelas nggak mungkin ke mana-mana bawa potty seat dari rumah. Persoalan sepele dan terdengar konyol, tapi aku sempat bingung banget. Akhirnya aku tanya-tanya ke beberapa teman yang punya anak cewek seumuran Amanda dan dapat tips untuk mendudukkan anak di tengah-tengah dan jangan lupa dipegangin. Alhamdulillah sukses setelah latihan di rumah beberapa kali. Ternyata beneran nggak kecemplung kalau tau triknya.

15564__elmo_l_0

Nah, sekian dulu ya cerita toilet training part 1 Amanda. Nanti akan disambung lagi ya kalau Amanda sudah berhasil seratus persen bebas diapers. Sending lots of love untuk ibu-ibu di luar sana yang juga sedang toilet training. Sabar dan semangat selalu!

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s