[BABY] Gadget & Screen Time


IMG_9322-sm

Nggak dikasih gadget takut gaptek, tapi begitu dikasih nggak mau berhenti? Ibu-ibu yang punya dilema serupa, ayo tunjuk jari!

Beberapa waktu lalu aku sempat share tentang pemberian gadget dan jatah screen time Amanda via Instagram story dan ternyata responnya rame banget. Banyak ibu-ibu yang juga punya kegalauan sama terkait gadget untuk anak. Ada beberapa bumil dan pengantin baru yang ikut menyimak, ada juga yang sampai repot-repot bikin rangkuman (udah kaya jaman SD aja hehe) buat dibaca-baca lagi kalau anaknya sudah lahir nanti. Jadi, untuk memudahkan aku tulis di sini aja ya, buibu tersayang. Semoga pengalamanku ini bisa membantu, menginspirasi, dan melegakan yang sedang galau.

Awalnya, seperti banyak ibu newbie lainnya, aku berniat untuk ketat dalam membatasi screen time Amanda. Maunya no TV dan no gadget sampai paling nggak usia 9-10 bulan, kalau bisa malah 1 tahun penuh. Tapi itu niatnya lho ya.

Prakteknya? Niat nan mulia bubar jalan setelah drama makan dimulai, sekitar usia 7 bulan. Amanda mengeluarkan jurus GTM dan mama pun mengeluarkan segala senjata berupa video anak-anak (yang sudah di-download, masuk ke flashdisk dan dicolok ke TV) sebagai bentuk sogokan supaya anaknya mau makan. Dari Super Simple Song, Little Baby Bum, Mother Goose Club, sampai PinkFong yang terbaru, semua sudah lengkap dikoleksi. Diputar gantian biar anaknya nggak bosen, plus mama juga ikut nyanyi dan nari sambil usaha nyuapin. Lalu, apa anaknya mau makan? Tetap nggak. Videonya ditonton, tapi tetap nggak mau mangap.

Kalau acara makannya di rumah masih lumayan, bosen lihat TV bisa sambil diajak main ini itu, dibiarin lari sana sini, sambil naik sepeda lah, naik kuda-kudaan lah. Tapi begitu makan di luar, duh susahnya… nggak mungkin kan cari resto khusus yang ada TV-nya bisa nyetel video anak. Nah, sejak itulah akhirnya aku mulai memperkenalkan Amanda pada iPad. Tepatnya usia berapa aku nggak ingat. Yang jelas, iPad ini sempat jadi penyelamat utama setiap makan di resto.

Saat itu aku sebenarnya sudah sadar bahwa semestinya aku berhenti sampai pemberian iPad aja, karena usia Amanda masih terlalu kecil untuk terlalu ‘terpapar’ gadget. Tapi diawali dengan kepepet, lama-lama jadi habit, aku dan suami pun mulai mengizinkan Amanda nonton YouTube di hp. Sekali dikasih, minta terus. Lama-lama dia bisa nyari sendiri video yang mau dia tonton (bahkan sebelum usianya genap 2 tahun), dan pernah ada masanya Amanda pegang hp untuk nonton YouTube selama setengah hari. Sebagai ibu, tentunya ada rasa khawatir lihat anak segitu lengketnya dengan gadget. Tapi waktu itu rasanya seolah nggak ada pilihan lain buat bikin dia diem sebentar dan nggak rewel ditinggal masak dan cuci piring. Acara makan pun jadi lebih minim drama, karena entah kenapa  semakin kecil gadgetnya, anak jadi semakin fokus dan otomatis lebih nurut dikasih makan minum. Kondisi itu berlangsung entah berapa lama, sampai akhirnya ‘teguran’ dari Allah pun datang berupa penyakit kedip-kedip. Aku menyebutnya penyakit karena sindrom ini datang tiba-tiba dan baru sembuh setelah treatment.

Mulanya beberapa minggu sebelum berangkat ke Hong Kong, aku dan suami sudah mulai sadar dan khawatir karena Amanda sering kedip-kedip tanpa sebab. Aku sempat coba tes pengelihatannya dengan minta dia mengenali huruf yang kupegang jarak jauh, tapi kayaknya nggak ada masalah. Kami berusaha mengingatkan untuk nggak kedip-kedip, tapi ternyata itu bukan sesuatu yang dia sengaja misal karena matanya gatal atau apa. Saat itu kami sudah curiga bahwa ini efek keseringan nonton hp, tapi tetap nggak membatasi screen time dia dan malah semakin menjadikan YouTube sebagai senjata supaya dia mau makan, terutama waktu kami pergi ke Hong Kong.

Seperti yang sebenarnya sudah bisa diprediksi, sepulang dari Hong Kong, penyakit kedip-kedipnya semakin parah. Aku sampai nggak bisa tidur karena khawatir dan AKHIRNYA sadar betul kalau efek negatif hp untuk anak itu ternyata bukan sekadar peringatan kosong. Besoknya aku langsung mulai membatasi pemberian gadget dan jatah screen time. TV masih boleh, iPad hanya untuk main game edukatif dan nonton video yang sudah di-download, tapi untuk hp sama sekali dilarang. Ketika kami konsultasi dokter anak langganan Amanda, beliau menyebutnya TIC (silakan Google apa artinya ya) dan juga sepakat untuk memberlakukan puasa gadget. Kalau bisa malah iPad dan TV juga dilarang. Tapi karena aku nggak tega, jadi kami tetap pada rencana awal, yaitu hanya hp yang puasa 100%.

IMG_3870-sm

Awalnya ya susah banget. Bener-bener deh, menyapih anak dari hp itu jauh lebih susah daripada menyapih dari ASI. Terutama saat makan di luar. Mama papanya harus siap putar otak ngajak main, menempel sticker, mewarnai, baca buku, kalau terpaksa kadang bawa iPad juga biar mau makan. Tapi lama-kelamaan Amanda dan mama papa jadi terbiasa. Yang tadinya hampir selalu merengek minta hp, sekarang sudah nggak pernah lagi karena sudah tau kalau (dalam bahasa dia sendiri) “Amanda lagi puasa hp, biar matanya nggak kedip-kedip.”

Seperti yang diharapkan, penyakit kedip-kedipnya mulai berkurang dan sekarang sudah sembuh total. Alhamdulillah… Kami juga dapat bonus positif, karena sampai sekarang Amanda sudah 98% bebas hp dan YouTube. 2%-nya adalah kesempatan langka yang kami berikan sebagai reward kalau hari ini dia bersikap baik, atau pas kepepet banget harus makan tapi anaknya udah ngantuk. Kasih hp deh biar melek. Hehe… Tapi Amanda sudah tau kalau begitu selesai makan hpnya harus dikembalikan lagi.

Sedangkan untuk iPad, aku nggak melarang Amanda main iPad karena entah kenapa dia nggak pernah tahan lama kalau sama iPad. Nggak sampai 30 menit biasanya sudah bosan dan cari mainan lain. TV pun begitu (perlu dicatat kalau TV-ku bukan TV canggih yang bisa connect ke internet dan buat nonton YouTube, dan menurutku jadi sama aja kalau begitu, secara nggak langsung mengajari anak bahwa video yang ingin dia tonton akan tersedia di TV, nggak terbatas. Sama aja seperti hp tapi layarnya lebih besar. Sedangkan kalau videonya harus di-download, kita jadi lebih mudah membatasi sekaligus mengajari anak untuk sabar. Mau nonton apa boleh, tapi nanti mama download dulu ya.)

Selain itu, iPad tetap aku izinkan karena 1) aku percaya anak tetap butuh mengenal gadget supaya nggak ketinggalan jaman, dan 2) isi iPad sudah aku atur sedemikian rupa agar no YouTube dan isinya hanya game edukatif, aplikasi hiburan anak, lagu anak, dan beberapa video kartun kesukaan Amanda. Dan ternyata, game edukatif  di iPad ini membantu Amanda belajar tentang huruf, angka, warna, bentuk, nama hewan, buah, sayur, bahkan belajar menyanyi, menari, dan toilet training.

Berikut beberapa aplikasi dan game edukatif yang recommended:

MARBEL PRESCHOOL

246x0w-3

Game edukatif paling recommended untuk anak Indonesia usia balita (dan batita seperti Amanda). Utamanya karena berbahasa Indonesia (aku termasuk orang tua yang lebih senang memperkuat pondasi bahasa Indonesia dulu, baru bahasa lainnya) dan isinya lengkap banget, dari pengenalan huruf, angka, buah, sayur, bentuk, dan warna. Tampilannya cukup menarik, nggak ribet dan nggak bikin cepat bosen.

PINKFONG ABC PHONICS

246x0w

Siapa yang nggak suka Pinkfong? Kurasa nggak ada ya. Hehe… Game edukatif ini salah satu yang terbaik keluaran Pinkfong. Harganya cukup lumayan, tapi pantas banget dibeli karena tampilannya super menarik, kontennya mendidik banget, banyak lagu-lagu yang ringan dan catchy bikin anak jadi senang dan cepat menghafal huruf. Selain ABC Phonics, ada beberapa aplikasi hiburan yang bagus juga dari PinkFong seperti PINKFONG MOTHER GOOSE dan PINKFONG DINO WORLD.

Untuk anak-anak yang lebih suka Elmo dan karakter Sesame Street, ada game ELMO LOVE ABCS LITE dan ELMO LOVE 123S LITE yang juga menarik dan mendidik. Disarankan untuk anak yang lebih besar, karena berbahasa Inggris dan instruksi pada gamenya agak harus mikir.

ELMO CALLS

246x0w-4

Yang satu ini game anti nangis! Nggak penting, tapi lumayan bermanfaat mengatasi anak yang cranky karena bisa pura-pura dapat telepon dan video call dari Elmo. Disarankan untuk download di hp aja supaya kelihatannya dapet telepon beneran, gitu. Hehe… 

POTTY TIME WITH ELMO

246x0w-2

Game yang satu ini sebenarnya agak membosankan kontennya, tapi berdasarkan pengalamanku sih cukup membantu saat Amanda proses toilet training. Minimal dia jadi senang karena lihat Elmo favoritnya juga pipis di toilet dan setelah pipis juga dapat bintang seperti Amanda.

Nah, sekian dulu ceritaku. Semoga bermanfaat ya. Kalau ada yang nggak setuju atau punya cara lain juga nggak masalah, kita nggak perlu saling menghakimi. Aku percaya setiap ibu pasti punya cara terbaik versi masing-masing dalam membesarkan dan mendidik anak, termasuk soal gadget dan screen time :) Tetap semangat, buibu!

 

PS: Aku memutuskan untuk nggak mengganti kategori [BABY] menjadi [TODDLER] karena topiknya soal Amanda, and Amanda will always be my baby! Hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s