[BABY] Tedak Siten

Tedak-Siten-Amanda-3

“Time flies when you have kids, they grow up TOO fast!”

Bener banget deh, rasanya baru kemarin sanggulan untuk upacara Mitoni alias tujuh bulanan si calon bayi di perut, tiba-tiba tanggal 16 Juli 2016 lalu aku sudah harus sanggulan dan jarikan lagi untuk upacara Tedak Siten Amanda. Tedak Siten atau upacara turun tanah adalah upacara tradisional Jawa yang yang merupakan perlambang kemandirian dan kesiapan anak dalam menghadapi kehidupan.

Seperti upacara Mitoni, upacara Tedak Siten ini juga sudah termasuk langka karena (katanya) banyak orang tua muda yang malas repot. Tapi aku dan suami, didukung bapak ibu, memang sudah niat mengadakan upacara lengkap untuk anak pertama kami. Selain melestarikan adat Jawa, upacara semacam ini mengandung doa yang baik untuk anak, jadi nggak ada salahnya, kan?

Continue reading

[BABY] 4 & 5 Months

AmandaandMama13

Time surely flies! Rasanya baru kemarin Amanda lahir, tiba-tiba sekarang sudah genap 6 bulan. Rasanya kemarin dia cuma bisa tidur terlentang dan noleh kanan-kiri, tiba-tiba sudah belajar duduk dan mulai makan. Rasanya baru kemarin aku kebingungan dan stres berat mengurus bayi (dengan kondisi suami jauh, tanpa baby sitter dan ART yang menginap!), tiba-tiba sekarang sudah jauh lebih santai dan bisa mengurus keperluan Amanda sambil setengah tidur :))

Di bulan ke-4 dan 5 ini banyak sekali milestones yang sudah berhasil dicapai Amanda, yang sampai sekarang masih sering bikin aku takjub dan bangga. Bayi kecilku sekarang sudah besar!

Continue reading

[BABY] Merahlah Pipinya

Soleram, soleram
Soleram anak yang manis
Anak manis janganlah dicium, Sayang
Kalau dicium merahlah pipinya

Aku sudah familier dengan lagu Soleram itu sejak kecil, tapi baru betul-betul menghayati liriknya belakangan ini. Dulu kupikir si Soleram ini pipinya merah karena malu kali ya kalau dicium. Tapi nggak pernah terpikir kalau ternyata pipi anak bisa beneran merah (bukan memerah) karena bakteri/virus yang ditularkan lewat cium-cium gemes dari orang-orang.

Bermula dari postingan Instagram dari blogger favoritku, Andra Alodita, yang mengingatkan tentang pentingnya para ibu untuk tidak membiarkan sembarang orang memegang/menggendong/mencium anak kita, meskipun itu keluarga sendiri, berkaca pada kejadian yang menimpa bayi Claire Henderson yang sampai terkena herpes oral karena sering dicium-cium orang. Awalnya sih aku cuma “Iya ya, ngeri juga ya!” tapi tekadku masih separuh-separuh untuk tegas membatasi orang lain memegang/mencium Amanda. Separuhnya didominasi perasaan galau gimana dong nanti ngomong ngelarangnya, dst dst. Apalagi kalau yang pengen gendong itu saudara sendiri, kan nggak enak (dasar orang Endonesa!).

Sampai akhirnya… Amanda mengalami sendiri :(

Continue reading

[BABY] Her Fourth Trimester

Amanda40hrPINK+credit-15x15cm.jpg

Nggak terasa bayi kecilku sekarang sudah genap 3 bulan! Sudah tambah besar dan panjang (bye bye baju newborn!), sudah makin banyak akalnya, sudah macam-macam ekspresi wajah dan suaranya, dan sudah lulus dari trimester ke-4 versi dr. Karp! Alhamdulillah…

Bicara soal trimester ke-4, istilah ini aku dapat dari artikel Are Babies Born Too Early?” di web Colic Calm. Menurut dr. Harvey Karp, bayi manusia itu lahir 3 bulan alias 1 trimester lebih cepat! Jadi 3 bulan pertama hidupnya disebut trimester ke-4. Baca lengkapnya di Colic Calm atau di sini ya.

Continue reading

Selamat Datang, Amanda!

amanda1+credit

Halo! Akhirnyaaa aku berhasil curi-curi waktu untuk ngeblog lagi, setelah selamat melewati persalinan dan minggu-minggu pertama menjadi ibu yang kata orang beraaaat banget itu. Apa bener segitu beratnya? Hohoho, nanti ya jawabnya. Kita mulai ceritanya dari H-1 kelahiran si mungil dulu!

16 Agustus 2015
Seperti yang pernah kutulis dalam pregnancy post terakhirku, bahwa aku akhirnya terpaksa menjalani operasi caesar karena 2 alasan: plasenta previa parsial alias posisi plasenta yang separuh menutupi jalan lahir, dan kondisi retina kananku yang rapuh sehingga aku, suami, dan seluruh keluarga memutuskan untuk ‘nggak coba-coba’ meski misalnya letak plasentaku sudah bergeser waktu itu. Dokter kandunganku, dr. Nurhadi Rahman, Sp.OG alias dr. Adi memberi ancer-ancer tanggal lahiran di minggu ke 38 yaitu mulai tanggal 17 sampai 23 Agustus 2015. “Ya milih aja, nanti kabarin saya,” kata beliau. Akhirnya setelah berdiskusi panjang dengan suami, kami memutuskan untuk melahirkan si kecil dalam perut tanggal 17 Agustus, BUKAN karena hari kemerdekaan atau supaya dapet hadiah dari Pak Presiden, tapi karena 1) supaya tanggal lahirnya 17, sama seperti papanya, 2) tanggal baik menurut suamiku karena tanggal 1+7=8, bulan 8, tahun 2+0+1+5=8 juga, mengandung doa supaya rezeki anak kami mengalir dan nggak putus seperti angka 8 (amin!), dan 3) ambil tanggal paling awal supaya aku nggak perlu mengalami kontraksi baik yang asli maupun palsu dan flek-flek lagi.

Continue reading