Tentang That Summer

IMG_7374web

Bulan Agustus 2017 lalu jadi salah satu bulan paling bahagia buatku, karena akhirnyaaaa naskah yang sudah terpendam begitu lama pun terbit juga! Judulnya That Summer, terbitan Gramedia Pustaka Utama, menceritakan tentang dua orang bernama Ethan Zhang dan Julia Harper yang sama-sama memiliki mimpi buruk masa lalu. Mereka tidak sengaja bertemu dan ternyata justru bisa saling menyembuhkan. Sinopsis lengkapnya bisa diintip di sini.

Terbitnya That Summer ini jadi semakin istimewa karena dibarengi dengan peluncuran produk official merchandise That Summer, hasil kerjasamaku dengan Oh My Dear Paper, brand lokal produsen artsy goods milik Mbak Prieska Subagio. Melalui tangan berbakat Mbak Prieska, lahir 3 jenis merchandise berupa handpainted silk scarf, mini scarf, dan notebook. Semuanya bergambar burung Phoenix—seperti tato yang ada di pergelangan tangan Julia dan gambar di scarf yang pemberian Ethan—yang merupkan simbol “kelahiran kembali” Julia Harper setelah bangkit dari masa lalunya yang buruk. Merchandise That Summer X Prieska Subagio bisa langsung dipesan melalui Instagram @ohmydearpaper.

Continue reading “Tentang That Summer”

Just One Day

Now playing: Just One Day – BTS

Mickey Minnie Mouse

Mereka bilang dunia berputar, segalanya selalu dan akan terus berubah. Bunga-bunga bermekaran di musim semi, daun-daun berganti warna dan meranggas di musim gugur, orang-orang berpikir dan bersikap dengan cara yang berbeda saat mereka tumbuh dewasa. Semua hal berubah, semua orang berubah. Kecuali satu yang dikenal Amanda sebaik ia mengenal pola dan garis di telapak tangannya sendiri.

Namanya Tyler Kim. Lelaki paling aneh dan menjengkelkan di dunia, sahabat sekaligus musuh nomor satu Amanda, yang tak pernah berhenti dirindukan dan dibencinya pada saat yang bersamaan.

Continue reading “Just One Day”

Hero

leaving

“Jangan lakukan itu.” Eira mendesis frustasi seraya mencengkeram lengan lelaki muda itu kuat-kuat. “Mereka akan membunuhmu. Kumohon, jangan. Masih ada cara lain. Kita akan menemukan cara lain.”

“Tidak ada cara lain dan tidak ada alasan untuk menunda lagi. Kita sudah kehilangan terlalu banyak,” jawab lelaki itu dengan nada tegas. Namun senyuman lembut tersungging di bibirnya, berkebalikan dengan ekspresi cemas yang jelas terpeta di wajah Eira. “Harus ada yang melakukan sesuatu untuk menghentikan semuanya. Karl, Fritz, Jayden, bahkan Chantal dan kau sudah mengangkat senjata dan melawan… jadi, sekarang giliranku. Hanya ini yang bisa kulakukan,” ujarnya. Dan ketika Eira mengulangi kata-katanya tentang orang-orang yang akan membunuh lelaki itu, ia justru menggeleng dan tertawa lepas. “Kalau mereka benar-benar membunuhku, setidaknya aku akan mati sebagai pahlawan. Mengorbankan diri untuk kepentingan yang lebih besar. Keren sekali, bukan?”

Continue reading “Hero”

Wound

bloodyknife

Karl menahan lengan Eira untuk menghentikan langkah gadis itu. Kedua mata biru gelapnya dipenuhi emosi yang menyala-nyala berpadu dengan kewaspadaan yang kentara. “Ingat semua yang sudah pernah kuajarkan. Serang dengan cepat, di titik yang tepat.”

Eira mengangguk seraya mencengkeram belatinya lebih erat. Ingatannya terbang kembali ke arena latihan, di tengah musim panas yang menyengat, saat Karl memarahinya karena salah mempraktikkan teknik sayatan terbalik yang baru saja diajarkannya. Ia menggerutu, mengulang-ulang terus instruksinya (Perpanjang tangan kanan! Putar telapak ke arah bawah sampai pisau membuat kontak dengan bagian tubuh lawan yang jadi sasaran! Putar pergelangan tangan! Tarik pisau dari kiri ke kanan dalam satu garis yang dalam! Jaga kontak pisau dengan tubuh lawan!), kemudian memberi isyarat pada Jayden yang menonton dari pinggir arena agar mengambilkan pisau sungguhan, yang paling tajam, untuk menggantikan pisau kayu berujung tumpul yang sejak tadi mereka gunakan.

Continue reading “Wound”

Polaroid

polaroid

“Benda apa itu?” Kening kurcaci tua bernama Alfrigg itu berkerut dalam seraya melemparkan tatapan menuduh pada benda asing –asing baginya yang menghabiskan sepanjang hidup di ruang bawah tanah– yang sedang dibersihkan Luke dengan hati-hati.

“Ini kamera polaroid,” sahut Luke dengan sabar. Ia lalu menjelaskan kegunaan kamera yang baru saja dibelinya dengan harga sangat bagus di toko barang bekas langganannya dan menawarkan untuk memotret Alfrigg, yang langsung menggerutu panjang lebar tentang kesukaan Luke pada rongsokan buatan manusia.

Continue reading “Polaroid”

Brothers

Brothers

Dua bocah laki-laki duduk di sofa ruang tunggu kantor Sang Alfodr dalam keheningan total. Bocah yang lebih tua berambut pirang platina dan memiliki garis-garis rahang yang keras bernama Karl Eisenberg, sama sekali tak melepaskan pandangan dari adiknya yang pucat pasi, seolah akan ada monster yang muncul dan menyakiti adiknya jika ia lengah satu detik saja. Ia bisa melihat ketakutan yang terbayang di mata si kecil Fritz, memantulkan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya sendiri setelah menyaksikan serentetan teror yang terjadi kurang dari delapan jam yang lalu.

Continue reading “Brothers”

Nightmare

my nightmare

Lelaki yang tidak pernah tersenyum itu pasti punya kenangan masa kecil yang tidak menyenangkan. Dari caranya menghadapi dunia, betapa tinggi tembok yang telah dibangunnya, wajah yang selalu masam dan kata-kata yang seringkali membuat orang lain mengangkat alis, Eira bisa melihat luka besar yang masih mengalirkan darah namun berusaha ditutupinya sekuat tenaga. Gadis itu tak pernah tahu pasti penyebabnya, sampai suatu hari ia mendengar Karl berteriak keras dalam keadaan tak sadarkan diri dan terluka parah. Teriakannya terdiri dari dua kata yang diulang-ulang hingga terasa memilukan: Fritz dan jangan. Apa yang dilihat Karl di balik kedua kelopak matanya yang terpejam? Apa yang terjadi pada Fritz, adik yang selalu berusaha dilindunginya, dalam mimpi Karl yang mengerikan itu?

Continue reading “Nightmare”