The Fire and Eyes

fire_in_eyes

Seluruh tubuh Eira membeku ketika kesadaran itu menghantamnya: seseorang sedang mengikutinya, ia sedang diawasi. Nalurinya berteriak untuk lari, namun gadis itu justru melambat. Dua, tiga, empat langkah, sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya dan berbalik. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling gang kosong sementara tangannya merayap pelan, menggapai belati emas yang tergantung di pinggangnya –belati yang akan jadi tak berguna jika berhadapan dengan sepasukan Pengendali yang datang untuk menangkapnya.

Continue reading “The Fire and Eyes”

Advertisements

The Chamber

Admontdoor

Eira baru berusia tiga belas tahun saat pertama kali menemukan Ruang 2.5 –sebutannya untuk kamar rahasia yang kini menjadi rumah keduanya itu. Diawali dengan kegiatan Minggu siangnya yang biasa, menyusuri rak bagian sejarah di perpustakaan tua yang terletak di lantai dua Gedung Pertemuan Nordlys. Perpustakaan itu sepi seperti setiap harinya karena orang-orang lebih senang mengunjungi perpustakaan di Akademi masing-masing yang memiliki buku-buku terbaru dan fasilitas lebih canggih. Eira mungkin satu-satunya yang rutin datang ke sana, satu-satunya yang merasa perlu berada di sana demi mengumpulkan setiap potong paragraf, artikel, berita, foto, apapun yang mencatat tentang awal mula pemberontakan dan pemisahan diri klan Ljós puluhan tahun yang lalu. Ia memerlukan informasi sebanyak mungkin untuk melengkapi jalinan logikanya agar bisa memahami kenyataan bahwa orang tuanya pernah memilih untuk meninggalkan kenyamanan hidup di Quarter, yang hanya berakhir pada pelarian tanpa ujung dan kematian keduanya.

Continue reading “The Chamber”

Rum Raisin

Ice cream

Sebelum hari itu, Jayden Lagerfelt tidak pernah menempatkan es krim dalam daftar makanan yang akan dicarinya untuk meredakan rasa sakit. Di tengah bulan Desember yang membekukan, tepat setelah jam makan siang berakhir, tiba-tiba Eira muncul dengan seragam medisnya yang berwarna biru langit sambil menyodorkan satu cone es krim. “Rum raisin, untukmu,” kata Eira.Ketika Jayden menerima es krimnya dengan alis terangkat, gadis yang berpendar itu menambahkan sambil mengangkat bahu. Tatapannya terkunci di satu titik yang jauh di luar jendela. Di bibirnya tak tampak senyuman, namun suaranya terdengar sangat lembut. “Dulu, dulu sekali, ibuku pernah memberi tahu tentang empat cara yang sederhana untuk merasa bahagia di tengah dunia yang rumit ini. Satu, menari di bawah hujan. Dua, berbaring di bawah langit malam yang penuh bintang. Tiga, menyanyi keras-keras seolah tak ada yang mendengar. Dan yang keempat adalah makan es krim.”

Continue reading “Rum Raisin”

Steel Heart

Listening to: VIXX – Error

steel heart pendant

“Apa ini?” Eira mendongak dan menemukan kedua mata biru gelap milik Karl Eisenberg yang sedang balas menatapnya. Lelaki itu baru saja menambahkan satu bandul pada gelang perak yang dikenakan Eira. Dipasang dengan tangannya sendiri sebuah jantung –jantung sungguhan, bukan jantung hati– yang ukurannya tak lebih besar dari uang koin dan terbuat dari besi. Eira tengah mengamati gurat-gurat pembuluh darah yang diukir dengan sangat cermat di permukaannya saat ia teringat: bandul ini milik Karl, satu-satunya benda peninggalan ayahnya, biasa tergantung di lehernya dengan seutas tali kulit hitam. “Kenapa kau memberikannya padaku?” tanyanya lagi sambil mengangkat alis.

Continue reading “Steel Heart”

Emerald

emerald

Eira duduk di ujung tempat tidurnya dengan tatapan terpaku pada langit mendung di luar jendela. Jemarinya tanpa sadar memutar gelang perak yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Gelang itu dibelikan Chantal beberapa tahun yang lalu di toko perhiasan antik di pusat kota, berbentuk rantai sederhana dan dihiasi dua bandul yang dipasangnya sendiri: liontin perak peninggalan ibunya dan potongan kecil batu Emerald yang tercecer dari pedang milik ayahnya, yang berhasil dipungut Eira dari lantai setelah ayahnya tewas terpenggal dan pedangnya jatuh berkelontang.

Continue reading “Emerald”