Brothers

Brothers

Dua bocah laki-laki duduk di sofa ruang tunggu kantor Sang Alfodr dalam keheningan total. Bocah yang lebih tua berambut pirang platina dan memiliki garis-garis rahang yang keras bernama Karl Eisenberg, sama sekali tak melepaskan pandangan dari adiknya yang pucat pasi, seolah akan ada monster yang muncul dan menyakiti adiknya jika ia lengah satu detik saja. Ia bisa melihat ketakutan yang terbayang di mata si kecil Fritz, memantulkan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya sendiri setelah menyaksikan serentetan teror yang terjadi kurang dari delapan jam yang lalu.

Continue reading “Brothers”

Advertisements

Nightmare

my nightmare

Lelaki yang tidak pernah tersenyum itu pasti punya kenangan masa kecil yang tidak menyenangkan. Dari caranya menghadapi dunia, betapa tinggi tembok yang telah dibangunnya, wajah yang selalu masam dan kata-kata yang seringkali membuat orang lain mengangkat alis, Eira bisa melihat luka besar yang masih mengalirkan darah namun berusaha ditutupinya sekuat tenaga. Gadis itu tak pernah tahu pasti penyebabnya, sampai suatu hari ia mendengar Karl berteriak keras dalam keadaan tak sadarkan diri dan terluka parah. Teriakannya terdiri dari dua kata yang diulang-ulang hingga terasa memilukan: Fritz dan jangan. Apa yang dilihat Karl di balik kedua kelopak matanya yang terpejam? Apa yang terjadi pada Fritz, adik yang selalu berusaha dilindunginya, dalam mimpi Karl yang mengerikan itu?

Continue reading “Nightmare”

The Fire and Eyes

fire_in_eyes

Seluruh tubuh Eira membeku ketika kesadaran itu menghantamnya: seseorang sedang mengikutinya, ia sedang diawasi. Nalurinya berteriak untuk lari, namun gadis itu justru melambat. Dua, tiga, empat langkah, sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya dan berbalik. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling gang kosong sementara tangannya merayap pelan, menggapai belati emas yang tergantung di pinggangnya –belati yang akan jadi tak berguna jika berhadapan dengan sepasukan Pengendali yang datang untuk menangkapnya.

Continue reading “The Fire and Eyes”

The Chamber

Admontdoor

Eira baru berusia tiga belas tahun saat pertama kali menemukan Ruang 2.5 –sebutannya untuk kamar rahasia yang kini menjadi rumah keduanya itu. Diawali dengan kegiatan Minggu siangnya yang biasa, menyusuri rak bagian sejarah di perpustakaan tua yang terletak di lantai dua Gedung Pertemuan Nordlys. Perpustakaan itu sepi seperti setiap harinya karena orang-orang lebih senang mengunjungi perpustakaan di Akademi masing-masing yang memiliki buku-buku terbaru dan fasilitas lebih canggih. Eira mungkin satu-satunya yang rutin datang ke sana, satu-satunya yang merasa perlu berada di sana demi mengumpulkan setiap potong paragraf, artikel, berita, foto, apapun yang mencatat tentang awal mula pemberontakan dan pemisahan diri klan Ljós puluhan tahun yang lalu. Ia memerlukan informasi sebanyak mungkin untuk melengkapi jalinan logikanya agar bisa memahami kenyataan bahwa orang tuanya pernah memilih untuk meninggalkan kenyamanan hidup di Quarter, yang hanya berakhir pada pelarian tanpa ujung dan kematian keduanya.

Continue reading “The Chamber”

Rum Raisin

Ice cream

Sebelum hari itu, Jayden Lagerfelt tidak pernah menempatkan es krim dalam daftar makanan yang akan dicarinya untuk meredakan rasa sakit. Di tengah bulan Desember yang membekukan, tepat setelah jam makan siang berakhir, tiba-tiba Eira muncul dengan seragam medisnya yang berwarna biru langit sambil menyodorkan satu cone es krim. “Rum raisin, untukmu,” kata Eira.Ketika Jayden menerima es krimnya dengan alis terangkat, gadis yang berpendar itu menambahkan sambil mengangkat bahu. Tatapannya terkunci di satu titik yang jauh di luar jendela. Di bibirnya tak tampak senyuman, namun suaranya terdengar sangat lembut. “Dulu, dulu sekali, ibuku pernah memberi tahu tentang empat cara yang sederhana untuk merasa bahagia di tengah dunia yang rumit ini. Satu, menari di bawah hujan. Dua, berbaring di bawah langit malam yang penuh bintang. Tiga, menyanyi keras-keras seolah tak ada yang mendengar. Dan yang keempat adalah makan es krim.”

Continue reading “Rum Raisin”