There’s Something Between Us

TSBU-sm

Merinding semerinding-merindingnya. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Akhirnya, anak pertamaku tersayang, There’s Something Between Us, berhasil duduk manis di salah satu rak berlabel Novel Pilihan di Gramedia Plaza Ambarrukmo. Akhirnya, impianku sejak kelas 6 SD akhirnya tercapai hari ini, bisa kirim foto ke grup WhatsApp keluarga dan bilang, “Bapak, Ibu, novel anakmu sudah terbit di toko buku.” yang diteruskan ucapan syukur tak berkesudahan dari Bapak dan Ibu. Bapak bahkan langsung berangkat ke Gramedia untuk membuktikan sendiri kalau TSBU bener-bener sudah ada di sana :’)

Continue reading

There’s Something Between Us [TEASER 5]

Cho Ha-Ra. Musim dingin, 23 Desember 2008.

Aku bisa melihat tatapan mata itu dengan jelas, diliputi ekspresi shock dan tak percaya, namun bibirnya tak mengeluarkan sepatah katapun. Tak ada bantahan, tak ada pertanyaan. Ia hanya duduk diam dan menatapku, hingga akhirnya aku menyelesaikan pidato pamitanku itu. Sung-Ki bahkan tidak bergerak dari tempat duduknya ketika teman-teman dan staf manajemen New High lainnya berhamburan memberikan pelukan perpisahan untukku. Ia juga masih tetap diam ketika aku akhirnya melangkahkan kaki keluar apartemen New High dan melambai untuk yang terakhir kali, sambil menahan air mata yang sudah menggenang di sudut-sudut mataku.

Continue reading

There’s Something Between Us [TEASER 4]

Cho Ha-Ra. Musim dingin, 15 Desember 2008.

“Noona…”

Aku menoleh dari tumpukan pakaian yang sedang kupersiapkan untuk penampilan New High malam ini di Music Bank dan mendapati Kim Sung-Ki sedang berdiri di ambang pintu ruang pakaian dengan sebelah tangan bertumpu ke tembok. Tampaknya ia baru saja selesai mandi karena aku masih bisa mencium aroma aftershave yang dipakainya. Rambutnya masih sedikit basah, wajahnya tampak segar dan bibirnya bahkan lebih merah dibanding warna lipstikku.

Laki-laki itu sudah mengenakan pakaian yang kuberikan padanya untuk acara fanmeeting pagi ini: semi blazer biru tua berbahan ringan, T-shirt Joyrich hitam kesukaannya sebagai dalaman, serta celana jeans warna gelap. Tampak luar biasa mempesona seperti biasa.

Continue reading

There’s Something Between Us [TEASER 3]

Kim Sung-Ki. Musim gugur, 16 September 2008.

Kopi, kopi, kopi, kopi.

Aku menggumamkannya jutaan kali sejak turun dari kereta dan menginjakkan kaki kembali di Seoul yang sibuk. Sungguh aku membutuhkan secangkir kopi pekat agar bisa bertahan menjalani hari ini. Ya, kopi pekat dan Cho Ha-Ra.

Ngomong-ngomong soal Cho Ha-Ra, tampaknya aku mulai berhalusinasi karena saat ini, tepat saat ini, aku seperti sedang melihatnya di balik jendela Coffee Bean. Terbalut sweater rajut biru navy, celana jeans hitam yang ketat, dan ankle boot berwarna hitam. Ia tampak sangat cantik dengan rambut panjang ikalnya yang terurai di punggung, satu sisi poninya diselipkan ke balik telinga, memamerkan anting-anting indah dengan batu-batu berwarna biru.

Continue reading

There’s Something Between Us [TEASER 2]

Cho Ha-Ra. Musim gugur, 15 September 2008.

Aku bergulung di balik selimut dengan bahagia ketika sinar matahari mulai merayap masuk lewat celah tirai kamarku. Setelah nyaris dua bulan tidak merasakan hari libur, akhirnya hari ini aku bisa menikmati indahnya dunia jika bisa bangun lebih siang tanpa diburu pekerjaan.

Entah berapa menit kuhabiskan untuk bermalas-malasan lebih lama di tempat tidur, sebelum teringat pada Kim Sung-Ki. Laki-laki yang satu itu benar-benar luar biasa. Ia bisa membuat detak jantungku porak poranda, bahkan ketika ia berada di tempat yang jauh.

Continue reading

There’s Something Between Us [TEASER 1]

Kim Sung-Ki. Musim panas, 24 Agustus 2008.

Noona, say ‘kimchi’!” Aku berteriak sebelum menekan tombol kamera polaroidku, sementara Ha-Ra mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya sambil tersenyum lebar. Kami memutuskan untuk jalan kaki kembali ke hotel, supaya bisa menikmati pemandangan dan berhenti di tempat yang menarik untuk berfoto-foto.

“Lihat! Gambarnya sudah mulai keluar!” Ha-Ra berseru kegirangan sambil mengipas-ngipas lembaran polaroid yang sudah mulai berwarna, menunggu dengan penuh antusias hingga wajahnya sendiri muncul di atas kertas polaroid itu.

Continue reading

There’s Something Between Us [PROLOGUE]

rain9

Aku menghembuskan nafas sambil menempelkan kepalaku ke kaca. Mataku bergerak liar menyusuri pemandangan di luar jendela. Gedung perkantoran yang tinggi menjulang, deretan pertokoan dengan lampu-lampu beraneka warna, gerai makanan pinggir jalan yang dikerumuni orang-orang kelaparan, papan reklame luar biasa besar di tengah persimpangan, dan jembatan Cheongdam penuh lampu yang membelah Sungai Han… benar-benar menakjubkan.

Seoul tidak pernah berubah. Dinamis dan penuh gemerlap. Meskipun sudah hampir tiga tahun aku meninggalkan kota ini untuk menikmati gemerlap lain yang ditawarkan London, tapi, entah kenapa, Seoul tetap memiliki daya tarik tersendiri yang mengundangku untuk selalu kembali.

Continue reading