Hero

leaving

“Jangan lakukan itu.” Eira mendesis frustasi seraya mencengkeram lengan lelaki muda itu kuat-kuat. “Mereka akan membunuhmu. Kumohon, jangan. Masih ada cara lain. Kita akan menemukan cara lain.”

“Tidak ada cara lain dan tidak ada alasan untuk menunda lagi. Kita sudah kehilangan terlalu banyak,” jawab lelaki itu dengan nada tegas. Namun senyuman lembut tersungging di bibirnya, berkebalikan dengan ekspresi cemas yang jelas terpeta di wajah Eira. “Harus ada yang melakukan sesuatu untuk menghentikan semuanya. Karl, Fritz, Jayden, bahkan Chantal dan kau sudah mengangkat senjata dan melawan… jadi, sekarang giliranku. Hanya ini yang bisa kulakukan,” ujarnya. Dan ketika Eira mengulangi kata-katanya tentang orang-orang yang akan membunuh lelaki itu, ia justru menggeleng dan tertawa lepas. “Kalau mereka benar-benar membunuhku, setidaknya aku akan mati sebagai pahlawan. Mengorbankan diri untuk kepentingan yang lebih besar. Keren sekali, bukan?”

Continue reading “Hero”

Advertisements

Wound

bloodyknife

Karl menahan lengan Eira untuk menghentikan langkah gadis itu. Kedua mata biru gelapnya dipenuhi emosi yang menyala-nyala berpadu dengan kewaspadaan yang kentara. “Ingat semua yang sudah pernah kuajarkan. Serang dengan cepat, di titik yang tepat.”

Eira mengangguk seraya mencengkeram belatinya lebih erat. Ingatannya terbang kembali ke arena latihan, di tengah musim panas yang menyengat, saat Karl memarahinya karena salah mempraktikkan teknik sayatan terbalik yang baru saja diajarkannya. Ia menggerutu, mengulang-ulang terus instruksinya (Perpanjang tangan kanan! Putar telapak ke arah bawah sampai pisau membuat kontak dengan bagian tubuh lawan yang jadi sasaran! Putar pergelangan tangan! Tarik pisau dari kiri ke kanan dalam satu garis yang dalam! Jaga kontak pisau dengan tubuh lawan!), kemudian memberi isyarat pada Jayden yang menonton dari pinggir arena agar mengambilkan pisau sungguhan, yang paling tajam, untuk menggantikan pisau kayu berujung tumpul yang sejak tadi mereka gunakan.

Continue reading “Wound”

Polaroid

polaroid

“Benda apa itu?” Kening kurcaci tua bernama Alfrigg itu berkerut dalam seraya melemparkan tatapan menuduh pada benda asing –asing baginya yang menghabiskan sepanjang hidup di ruang bawah tanah– yang sedang dibersihkan Luke dengan hati-hati.

“Ini kamera polaroid,” sahut Luke dengan sabar. Ia lalu menjelaskan kegunaan kamera yang baru saja dibelinya dengan harga sangat bagus di toko barang bekas langganannya dan menawarkan untuk memotret Alfrigg, yang langsung menggerutu panjang lebar tentang kesukaan Luke pada rongsokan buatan manusia.

Continue reading “Polaroid”

Brothers

Brothers

Dua bocah laki-laki duduk di sofa ruang tunggu kantor Sang Alfodr dalam keheningan total. Bocah yang lebih tua berambut pirang platina dan memiliki garis-garis rahang yang keras bernama Karl Eisenberg, sama sekali tak melepaskan pandangan dari adiknya yang pucat pasi, seolah akan ada monster yang muncul dan menyakiti adiknya jika ia lengah satu detik saja. Ia bisa melihat ketakutan yang terbayang di mata si kecil Fritz, memantulkan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya sendiri setelah menyaksikan serentetan teror yang terjadi kurang dari delapan jam yang lalu.

Continue reading “Brothers”

Boots

Military Boots

Pernah mencoba sepatu bot militer? Atau setidaknya, membayangkan bagaimana rasanya memakai sepatu bot militer yang biasa dikenakan para prajurit di medan perang? Dirancang dengan penuh perhitungan, mengutamakan stabilitas dan perlindungan agar bisa bertahan di lingkungan yang tak kenal ampun. Menjanjikan keamanan, tapi bisa membuat jari-jari di dalamnya menjerit kesakitan jika dipakai terlalu lama. Mungkin itulah yang akan kau rasakan saat mencoba berdiri di atas kakiku, merasakan langkah demi langkah bersamaku. Segalanya dirancang dengan penuh perhitungan. Kadang terlalu hati-hati, berpikir terlalu keras untuk sekadar menentukan kanan atau kiri, berusaha terlalu keras untuk jadi sempurna dan tetap stabil.

Continue reading “Boots”