Teater Boneka

Kalau di Path, Twitter atau Instagram postingan ini harusnya dikasih tagar #latepost :D Tapi nggak apa-apa ya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali!

Teater-Boneka

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Sekali ini, lagi, aku nggak bisa berhenti mengucap syukur atas kelahiran ‘anak’ keduaku: Teater Boneka! Novel yang merupakan hasil dari gojlokan selama karantina Gramedia Writing Project ini aku tulis bareng Emilya Kusnaidi (Meme) dan Kak Orinthia Lee, dua teman berbakat yang juga sama beruntungnya denganku bisa mengusung genre Metropop untuk Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Continue reading “Teater Boneka”

Lovestruck #7

Divorce

“Kenapa?”

“Aku nggak bisa lagi kaya gini, Rei.”

“Iya, tapi kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba bilang nggak bisa lagi kaya gini?” Reisa bertanya lagi dalam nada yang semakin tinggi. Sementara laki-laki yang duduk di hadapannya menampakkan wajah berkabut. Terbaca jelas bahwa Reza tidak ingin berdebat, tapi ia tidak punya pilihan lain.

“Aku udah punya Nadine,” jawab Reza singkat.

Continue reading “Lovestruck #7”

Tinggal

leaving

tinggal | ting.gal

1 masih tetap di tempatnya dsb; masih selalu ada (sedang yg lain sudah hilang, pergi, dsb); 2 sisanya ialah …; bersisa …; tersisa …; yg masih ada hanyalah …; 3 ada di belakang; terbelakang; 4 tidak naik kelas (tt murid sekolah); 5 sudah lewat (lalu; lampau); 6 diam (di); 7 selalu; tetap (demikian halnya); 8 melupakan; 9 tidak usah berbuat apa-apa selain dr …; 10 bergantung kpd; terserah kpd; terpulang kpd; 11 (sbg keterangan pd kata majemuk berarti) a yg didiami; b yg ditinggalkan (dikosongkan dsb)

Aku benci hari Minggu.

Continue reading “Tinggal”

Lovestruck #6

Akhirnya! Setelah sekian lama terbengkalai karena kesibukan, kemalasan, dan gangguan dari ide-ide cerita lainnya, akhirnya akhirnya akhirnya… chapter ini selesai juga! Selamat membaca ;)

Night Lights Urban Bokeh

Reza

“Rei, kamu yakin mau makan di sini?” Aku mengerutkan kening setelah kami tiba di warung kupat tahu langganan Reisa yang bahkan nggak layak disebut sebagai ‘warung’. Hanya ada gerobak, dengan tenda yang sudah berlubang di sana-sini, menaungi kursi-kursi plastik kotor yang ditata seadanya.

Continue reading “Lovestruck #6”