The Steel Butterfly

Dramatic Butterfly

“Chantal! Hey, Chantal! Berhentilah!” Eira berseru keras sembari memegangi kedua pundak Chantal Fortier kuat-kuat. Kedua gadis itu bergulat selama beberapa detik, sampai akhirnya Eira berhasil merebut pedang yang dipegang Chantal dan menjatuhkan gadis yang lebih muda itu ke lantai. “Apa yang kau pikirkan? Robot yang kau lawan sudah rusak berat, kenapa kau masih saja…”

Continue reading “The Steel Butterfly”

Advertisements

Hide and Seek

Ruined house interior

Bocah lelaki itu membelalakkan mata. Kedua irisnya yang sebiru langit di luar galaksi memancarkan rasa takut ketika suara itu memanggil namanya dengan nada seperti berdendang, seolah sedang mencari mangsa dalam permainan petak umpet yang riang. Sambil menahan napas, ia bergerak ke kanan, merapat pada satu-satunya dinding yang masih berdiri tegak. Bocah itu berusaha setengah mati agar tak terlihat, karena ia sadar betul bahwa kali ini nyawanya bergantung pada kemampuannya bersembunyi.

Continue reading “Hide and Seek”

Boots

Military Boots

Pernah mencoba sepatu bot militer? Atau setidaknya, membayangkan bagaimana rasanya memakai sepatu bot militer yang biasa dikenakan para prajurit di medan perang? Dirancang dengan penuh perhitungan, mengutamakan stabilitas dan perlindungan agar bisa bertahan di lingkungan yang tak kenal ampun. Menjanjikan keamanan, tapi bisa membuat jari-jari di dalamnya menjerit kesakitan jika dipakai terlalu lama. Mungkin itulah yang akan kau rasakan saat mencoba berdiri di atas kakiku, merasakan langkah demi langkah bersamaku. Segalanya dirancang dengan penuh perhitungan. Kadang terlalu hati-hati, berpikir terlalu keras untuk sekadar menentukan kanan atau kiri, berusaha terlalu keras untuk jadi sempurna dan tetap stabil.

Continue reading “Boots”

Mirror

Green Eye

Ia memandangi pantulannya di cermin dengan kedua alis terangkat. Wajah bulat telur yang pucat dengan bibir tipis, hidung lancip, dan rambut coklat panjang yang tergerai hingga ke bagian tengah punggung membuatnya tampak seperti gadis manis, bahkan sedikit rapuh. Penampilan yang tepat untuk membuat semua orang mengantre untuk menolongnya saat ia dalam kesulitan. Namun saat ia bergerak untuk mengikat sebagian rambutnya, telinga bersudut runcing itupun tampak. Pendar-pendar keperakan terlihat semakin jelas, menyelubunginya dari puncak kepala hingga ujung kaki dan membuat tubuhnya seolah diselimuti kabut. Kabut yang membuatnya seolah tak nyata. Hanya ilusi.

Continue reading “Mirror”